Blog.
Saya seorang penulis. Saya menulis beberapa buku, ulasan, cerita pendek, dan terutama blog.
Journal @ 15 September 2008, “5 Comments”

 

Nyambung artikel “The Power of Surat Pembaca”, Surat Pembaca saya sudah dapat tanggapan di harian Kompas tanggal 10 September 2008 lalu. Ini nih:

Santunan Klaim Telah Diterima

Menanggapi surat Ibu Ratih Kumala di Kompas (28/8) ”Nasabah Bumiputera Disalahkan”, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan layanan yang diterima dari petugas di kantor Cabang Solo Gladag. Polis orangtua Ibu Ratih (Nomor: 2000341973 atas nama Ibu Badriah dengan tertanggung almarhum Harris Fadilla) dalam status lapse (tidak aktif membayar premi) saat tertanggung meninggal dunia sehingga sesuai dengan ketentuan klaim dibayarkan sebesar uang pertanggungan bebas premi.

Proses klaim sudah dibicarakan pada 12 Agustus 2008, tetapi ahli waris menolak dengan alasan bahwa ketidakaktifan polis karena premi tidak tertagih petugas Bumiputera. Berdasarkan syarat umum polis (Pasal 5 Ayat 3) tentang pembayaran premi disebutkan: ”Jika karena sesuatu hal penagihan premi tidak dilakukan tepat waktunya oleh Badan (dalam hal ini Bumiputera), tidak membebaskan kewajiban pemegang polis untuk membayar premi kepada Badan.”

Pihak kami telah menemui Ibu Badriah sebagai ahli waris agar kembali dan sepakat dengan penghitungan santunan klaim. Santunan tersebut telah diterima oleh Ibu Bardiah pada tanggal 28 Agustus 2008. Kepada pemegang polis/nasabah Bumiputera jika memiliki pertanyaan/keluhan terkait layanan Bumiputera di lapangan agar menghubungi Halo Bumiputera di telepon 0800- 188-1912, atau melalui e-mail: komunikasi@bumiputera.com.
Ana Mustamin 
Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan AJB Bumiputera 1912

Sejujurnya, pengennya sih saya balas lagi. Tapi…, hhhhmmmm… sekali lagi: karena ibu saya berusaha ngayem2i saya, ditambah pula dengan kalimat, “ini bulan puasa, harus saling memaafkan” (gubrak!), jadilah -seperti biasa- saya harus kembali mengalah.

Journal @ 08 September 2008, “8 Comments”
Ada yang berbeda dengan puasa kali ini. Seperti halnya berbeda dengan puasa tiga tahun lalu dan dua belas tahun lalu. Ya, saya mengalami empat situasi puasa yang berbeda selama hidup:
1. Ketika saya kecil, saat mulai belajar berpuasa. Saya tinggal di perkampungan khas Jakarta yang penuh sesak. Tak ada privasi di kampung saya itu. Segala gosip beredar cepat. Ketika itu juga, saya ikut TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) yang diadakan oleh tetangga saya, namanya Pak Kholis. Saat itu, sekolah saya juga membagikan sebuah buku yang berisi laporan kegiatan selama bulan puasa. Setiap murid SD ketika itu agaknya punya buku macam ini. Saya harus mengisi apakah hari ini saya puasa penuh atau puasa beduk. Apakah saya hari ini mengaji dan tarawih atau tidak. Lebih dari itu, saja juga harus mengisi laporan kultum yang diberikan ketika tarawih usai. Saya begitu menyukai Ramadhan dan Lebaran (ya, saya lebih akrab dengan sebutan ‘lebaran’ ketimbang ‘idul fitri’). Mendekati Ramadhan usai, para orang tua dan guru ngaji senantiasa mengingatkan untuk mengencangkan ibadah karena siapa tahu kita bertemu malam lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Selain itu, kami juga bersiap-siap dengan baju baru yang hanya dibeli setahun sekali, tak lupa juga dompet! Karena para tetangga pasti akan membagikan uang ang-pao yang lumayan.
Journal @ 28 August 2008, “13 Comments”

 

Prolog

Dari sekian banyak artikel di blog ini, inilah artikel yang saya anggap paling penting yang pernah saya tulis.

 

Antara saya, mamah saya dan Asuransi Bumiputera

Setelah papah saya meninggal dunia, dan saya mudik ke Solo untuk pemakamannya, kami menghadapi satu masalah lain yang membuat mamah saya jadi lebih ikhlas, legowo, sekaligus semeleh. Lain mamah, lain pula saya yang masih saja meledak-ledak, sehingga saya memutuskan untuk menulis surat pembaca berikut:

 ”Agen Bumi Putera Tidak Menagih, Klien yang Disalahkan”


Ibu saya peserta asuransi jiwa Bumi Putera (cabang Solo) dengan nomor polis 2000341973. Sebelumnya, ibu saya mengikuti asuransi pendidikan untuk anak-anaknya, dan tidak pernah ada masalah. 

Asuransi jiwa yang ibu saya ikuti sejak tahun 2000, seharusnya memberikan perlindungan ketika orangtua saya (baik ibu/bapak) meninggal. Polis asuransi tersebut dibayarkan setiap enam bulan sekali, yaitu bulan Oktober dan April, sebesar Rp. 438.744. Selama mengikuti asuransi, ibu saya tidak pernah menunggak. Agen asuransi, Ibu Yohana, selalu datang ke rumah untuk menagih polis asuransi.  

Entah kenapa, pada bulan April 2008, Ibu Yohana tidak datang. Juga tak ada agen lain yang datang menggantikannya, seandainya ada pergantian agen. 

Journal @ 27 August 2008, “3 Comments”

Saya menemukan berita yang menarik perhatian saya:

“Heidi Dalibor (20 thn), warga Wisconsin, AS, cuek saja ketika suatu hari disurati dan ditelepon untuk membayar denda peminjaman buku dari perpustakaan. Tak dinyana, ancaman “kalau tidak mengindahakan akan dibawa ke pengadilan” benar-benar terjadi. Dua polisi mendatanginya dan membawa surat perintah hakim, lalu memborgolnya. Heidi dibawa ke kantor polisi, lalu difoto layaknya kriminal, tuduhannya: melecehkan perpustakaan.” (Sumber: Jawa Pos Minggu, 24 Agustus 2008)

Wah!

Seandainya saja pemerintah kita memperhatikan perpustakaan seserius itu. Tentu dokumentasi naskah sangat terjamin. Tahukan Anda, bahwa buku serial komik Petruk bisa komplit ditemui di perpustakaan Belanda? Dan novel bergenre seram milik Abdullah Harahap ada di perpustakaan di Amerika (saya tahu ini dari Intan Paramadita) lebih dari seratus judul. Bisa ditebak, naskah-naskah mereka tidak diperhitungkan di negara kita sebagai “sastra” dengan tanda kutip. Jadi naskah-naskah macam itu terlupakan.

Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama. Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun ‘60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, pembaca baru tahu bahwa Fola dan Henrietta adalah tokoh fiktif sebuah naskah berjudul “Gerhana Kembar” yang tengah dibaca oleh Lendy, pada tahun 2008. Sedikit demi sedikit, terkuak bahwa naskah “Gerhana Kembar” ditulis oleh Diana, nenek Lendy yang tengah sekarat, dan cerita itu berdasarkan pengalaman Diana dengan Selina, pasangan lesbinya ketika muda.